Peninggalan Belanda di Tanah Air bukan hanya bangunan berarsitektur kolonial, melainkan juga makanan. Salah satunya, roti, yang terbuat dari bahan pokok tepung terigu.
Sejumlah literatur menyebutkan, roti mulai diperjualbelikan oleh kalangan Belanda kepada warga pribumi sekitar tahun 1930. Kala itu, roti bertekstur agak kasar dan keras.
Kira-kira lima tahun kemudian, pada tahun 1935, untuk pertama kali, roti mulai dikenal oleh warga Banda Neira, Maluku Tengah. Lambat laun roti menjadi camilan khas lokal.

Penjual roti pun menjamur. Di Banda Neira, juga di pulau lain, masing-masing ada sekitar 10 penjual roti. Nah, salah satu yang paling khas, yaitu roti selamon di Pulau Banda Besar.
Roti-roti yang beredar, ketika itu, masing-masing memiliki cita rasa maupun tekstur yang berbeda. Hingga pasca Kemerdekaan Republik Indonesia, pada era 1950-an, cita rasa roti menjadi lebih gurih dan aroma pun lebih harum. Rahasianya, bahan baku tambahan: mentega.

Keluarga kami sendiri membuat roti Banda Neira untuk dijual. Kami menjualnya di kios kecil di halaman rumah. Keluarga kami membuat roti sejak tahun 1989, tapi sempat terhenti di tahun 1993.

Pada tahun 2017, keluarga saya melanjutkan usaha membuat roti Banda Neira lagi. Roti yang kami buat masih mempertahankan resep keluarga beserta teknik pembuatannya. Roti kami terkenal karena kesederhanaan namun rasanya enak meski tanpa topping mewah atau isian yahud layaknya roti jaman now.
Varian roti Banda Neira, antara lain roti cokelat, roti pisang, roti sisir, roti kenari, roti selai pala, dan roti kacang. Harganya, mulai Rp5.000 per empat buah, juga Rp12.000 per bungkus.

Uniknya, tanpa bahan pengawet, roti Banda Neira bisa bertahan hingga empat hari. Cita rasa tak berubah, pun tidak berjamur. Tetap enak dan aman dikonsumsi.
Tak seperti roti jaman now yang diberi topping dan isian lebay, cara pembuatan serta penyajian roti Banda Neira simpel saja. Dan kesederhanaan inilah yang membuat roti Banda Neira istimewa.


