Follow Us On

Fiqram Baadilla, Laskar Rempah Banda Neira

11

Jadi satu-satunya Laskar Rempah dari Kepulauan Banda, Maluku Tengah, tentu saja membuahkan kebanggaan tersendiri bagi Muhammad Fiqram Baadilla. “Iya, bangga,” kata pemuda berusia 21 tahun yang lahir dan besar di Banda Neira ini.

Laskar Rempah adalah duta dari program Jalur Rempah yang mewakili tiap provinsi di Indonesia. Program Jalur Rempah sendiri merupakan agenda Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbud).

Agenda ini, sebagaimana keterangan di laman resmi jalurrempah.kemdikbud.go.id, diharapkan menjadi titik kebangkitan budaya bahari di Indonesia sekaligus menghidupkan kembali ekosistem budaya rempah yang pernah berjaya di masa lampau.

“Kalian [Laskar Rempah] adalah duta budaya rempah dari provinsi masing-masing, …garda depan peneguhan jati diri bangsa Indonesia khususnya di Jalur Rempah,” kata Kapokja Diplomasi Budaya Kemdikbud Yayuk Sri Budi Rahayu di sebuah sesi pembekalan daring, baru-baru ini.

Hal senada juga disampaikan oleh Direktur Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan Kemdikbud Restu Gunawan di sesi tersebut, bahwa Laskar Rempah merupakan pintu masuk yang membukakan banyak peluang bagi para duta untuk bisa dikembangkan lebih lanjut.

Adapun pembekalan daring berupa bimbingan teknis yang diberikan oleh para pakar/praktisi selaku narasumber kepada para duta Laskar Rempah, antara lain penulisan artikel, smartphone videography, serta pemanfaatan media sosial untuk personal branding.

Lalu, apa saja tugas Laskar Rempah? Dalam dokumen yang diterima oleh Fiqram, disebutkan bahwa “170 peserta terpilih menjadi Laskar Rempah akan menjadi kontributor naskah dan admin media sosial untuk Redaksi Jalur Rempah sampai bulan Desember 2021.”

Muhammad Fiqram Baadilah, Laskar Rempah dari Banda Neira.
Muhammad Fiqram Baadilah, Laskar Rempah dari Banda Neira.

Kontribusi—berupa karya yang terdiri atas naskah, video, foto, photo story, dan konten TikTok—tersebut dapat dilakukan secara perorangan maupun tim. Karya terbaik akan mendapatkan imbalan/honor, juga apresiasi: ditayangkan di website Jalur Rempah RI.

Sejauh ini, Fiqram telah membuat tulisan tentang budaya buka puang. Ia mengaku, cukup sering menyaksikan secara langsung salah satu kegiatan adat ini. Bahkan beberapa kali ia ikut terlibat sebagai penari cakalele dalam acara yang dilaksanakan di Banda.

Sehari-hari, Fiqram berkegiatan di Barracuda Diving Club (BDC), sebuah UKM selam. Selain aktif melaut, pemuda yang sejatinya bercita-cita menjadi polisi ini juga menjalani kuliah di jurusan perikanan Sekolah Tinggi Perikanan Hatta-Sjahrir di Banda Neira.

Pada saat yang sama, mahasiswa semester akhir ini pun merampungkan skripsi berjudul “Laju Pertumbuhan Karang Acropora sp dengan Metode Spider.” Ini merupakan salah satu metode transplantasi atau budidaya karang dengan modul rangka jaring laba-laba (spider web).

Dalam waktu dekat, Fiqram berencana akan membuat photo story yang berhubungan dengan Jalur Rempah. “Rencananya, saya ingin memotret aktivitas panen pala dan semacamnya,” kata pemuda yang mengaku menyukai seni fotografi.

Sebagai Laskar Rempah, dalam berkarya, Fiqram bisa menggali banyak tema terkait rempah-rempah, dari seni, kuliner, ramuan, kriya, fashion, sampai sejarah. Dalam hal ini, ia tak sendirian, melainkan melibatkan kawan-kawan di komunitas BDC yang didirikannya.

Sedikit mengilas balik, saat mengikuti seleksi Laskar Rempah, pada paruh pertama 2021, Fiqram mewakili komunitas BDC. “Awalnya, saya tahu informasi [tentang Laskar Rempah] ini dari salah satu teman,” kata Fiqram. Lalu, ia pun menjalani serangkaian tes.

Usai bersaing dengan 2.000-an pendaftar, Fiqram terpilih sebagai salah satu dari 170 anak muda asal 34 provinsi yang lulus seleksi Laskar Rempah. Fiqram merasa dirinya beruntung karena mendapat banyak bantuan dan dukungan dari orang-orang terdekat.

Semula ke170 Laskar Rempah dijadwalkan mengikuti pelayaran Jalur Rempah bersama tim TNI AL, namun urung sejalan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di era pandemi Covid-19. Hal ini, diakui Fiqram, membuatnya merasa sedikit kecewa.

“Sejak dulu, saya ingin bisa berkeliling Indonesia secara gratis. Saya pikir, kapan lagi ada kesempatan seperti ini,” kata Fiqram yang sejak awal optimistis bisa terpilih menjadi Laskar Rempah, namun kemudian harus memendam harapan untuk berlayar dengan kapal laut. 

Kini, Fiqram berfokus pada pengerjaan photo story tentang aktivitas panen pala. Ia pun berharap, ke depannya program seperti ini terus ada agar menambah semangat anak muda untuk terus belajar dan berkarya bagi nusa dan bangsa, khususnya Banda Neira tercinta.

Penulis dan foto: Dian Indani, warga Banda Neira

Editor: Vega Probo

Author

  • Berawal dari workshop fotografi Jalur Rempah Banda Neira 2021, hadirlah website ini dengan tujuan agar karya-karya foto anak-anak Banda dapat berguna dan menjadi jendela bagi warga dunia untuk melongok ke dalam Banda. Tulisan dan foto-foto oleh warga Banda dan pemerhati Banda.

Related Posts

Leave a Reply